Catatan Hangat dari Reuni FISIP UNS 2025

Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah Fajar Anjungroso siang itu. Fajar Anjungroso merupakan Alumnus AN tahun 1995 yang kini bekerja di PT. Konten Emiten Indonesia. Alumnus Admnistrasi Negara ini berjalan pelan menyusuri aula Gedung Bulog, menyalami satu per satu wajah-wajah yang familiar—atau setidaknya dulu pernah akrab di bangku kuliah. Kadang ia tertawa lepas, tapi di lain waktu, keningnya berkerut, mencoba keras mengingat nama seseorang yang menghampirinya sambil berteriak, “Mas Fajar, inget aku nggak?”

Fajar mungkin tidak sendiri. Banyak alumni FISIP UNS dari berbagai angkatan yang datang dengan semangat dan rasa haru yang serupa. Beberapa datang jauh-jauh dari luar kota, bahkan luar pulau. Ada yang datang bersama pasangan, ada pula yang membawa serta anak-anaknya. Tapi siang itu, semua kembali jadi mahasiswa—dalam hati dan tawa mereka.

Reuni Akbar FISIP UNS 2025 ini mengusung tema Dari Kenangan Bangun Jejaring Masa Depan.” Tema yang sederhana, tapi mencerminkan apa yang terasa begitu kuat di ruangan itu: kehangatan, kekeluargaan, dan rasa bangga menjadi bagian dari rumah besar FISIP UNS.

Dibuka dengan sambutan dari perwakilan kampus yang secara khusus datang. Lalu dilanjutkan dengan sesi bincang santai yang dibumbui banyak tawa dan tepuk tangan. Sejumlah petinggi birkorasi sampai Menteri Perdagangan Budi Santoso pun hadir. Hiburan organ tunggal, tanyangan singkat, hingga foto bersama, menghidupkan suasana yang akrab namun penuh makna.

Namun bukan hanya nostalgia yang jadi isi acara hari itu. Di sela canda dan cerita, muncul juga percakapan serius: soal kontribusi alumni, jejaring profesi, bahkan ide untuk membentuk forum alumni lintas angkatan yang bisa aktif bergerak untuk sosial dan almamater.

Sang Presiden Keluarga Alumni FISIP UNS Reza sempat berujar, “Yang paling menyentuh itu ketika kita sadar, meskipun berbeda generasi dan profesi, kita tetap satu dalam semangat FISIP. Reuni ini bukan akhir, justru jadi awal dari banyak kolaborasi.”

Dan benar saja, sebelum acara berakhir, sudah terbentuk beberapa grup kecil alumni yang langsung menyusun agenda lanjutan: dari kelas inspirasi ke kampus, pelatihan karier untuk adik tingkat, hingga program sosial bersama.

Menjelang sore, satu per satu alumni berpamitan. Tapi kali ini tak hanya bertukar pelukan dan kontak—ada harapan yang tumbuh. Bahwa reuni ini bukan sekadar temu kangen, melainkan langkah kecil membangun jaringan alumni yang lebih guyub dan berdampak.

Dan saat matahari mulai condong ke barat, satu hal jadi jelas: di balik tawa dan ingatan, FISIP UNS tetap menjadi rumah yang selalu menyambut hangat siapa pun yang pernah tumbuh di dalamnya.

Tapi Sang Presiden Reza punya rencana lain. Selepas dari acara, dia meluncur ke Kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Satu tujuan: makan Bakwan Pabean.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *