Ada satu momen menarik dalam rangkaian Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret, Jumat malam (8/5/2026). Di tengah suasana yang hangat dan penuh nostalgia di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, nama-nama alumni dipanggil satu per satu. Tepuk tangan bergemuruh. Wajah-wajah bangga memenuhi ruangan.
Bagi keluarga besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, malam itu terasa spesial. Dua alumninya masuk dalam daftar 18 Alumni Berprestasi Tahun 2026. Mereka adalah Ahmad Mahendra dan Agustinus Fetem.
Nama pertama kini dipercaya sebagai Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan. Sementara nama kedua aktif menguatkan dunia pendidikan tinggi dari tanah Papua sebagai Ketua Senat Akademik Universitas Cenderawasih.
Dua jalan pengabdian yang berbeda, tetapi berangkat dari ruang-ruang kelas yang sama di FISIP UNS. Malam penghargaan itu sebenarnya bukan sekadar seremoni. Ada semacam pengingat bahwa perjalanan alumni sering kali menjadi cermin bagaimana sebuah kampus bekerja melampaui ruang kuliah.
Rektor UNS, Hartono, bahkan menyinggung hal itu dalam sambutannya. Bahwa capaian UNS hari ini tidak bisa dilepaskan dari peran alumni yang terus bergerak, bekerja, dan memberi manfaat di banyak sektor.
Dan menariknya, malam itu juga menjadi momentum peluncuran Dana Abadi Sebelas Maret. Sebuah agenda yang mungkin terdengar formal, tetapi justru menyimpan gagasan besar tentang masa depan kampus.
Di forum itu hadir Muliaman Hadad, Ketua Majelis Wali Amanat UNS yang juga dikenal sebagai Pengawas Danantara. Dengan gaya penyampaian yang tenang, Prof. Muliaman berbicara soal pentingnya endowment fund atau dana abadi.
Kurang lebih pesannya sederhana: kampus besar tidak cukup hanya punya gedung megah atau jumlah mahasiswa yang banyak. Kampus juga perlu punya daya tahan jangka panjang. Dan salah satu kekuatan itu lahir dari dana abadi yang dibangun bersama oleh alumninya.
Di banyak universitas dunia, endowment fund menjadi “mesin sunyi” yang menjaga kualitas kampus tetap hidup. Dari beasiswa, riset, pengembangan fasilitas, sampai dukungan untuk inovasi mahasiswa.
Dan di titik itu, alumni punya peran penting. Bukan hanya sebagai orang yang pernah kuliah di UNS, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang ikut menjaga masa depan almamaternya.
Mungkin itu juga yang terasa dalam malam Dies Natalis tersebut. Bahwa relasi kampus dan alumni ternyata tidak selesai saat wisuda. Ada yang terus membawa nama kampus lewat pengabdian di pemerintahan, ada yang membangun pendidikan di daerah, ada pula yang kembali menguatkan kampus melalui gagasan dan dukungan nyata.
Dari FISIP UNS, cerita-cerita itu terus tumbuh. Dan malam itu, dua nama alumni yang dipanggil ke atas panggung seolah menjadi pengingat kecil: bahwa dampak pendidikan kadang baru benar-benar terasa ketika lulusannya mulai bekerja untuk banyak orang.




